Gambar Memek Sempit ABG

Kumpulan Gambar Memek Sempit ABG

Cerita : Cerita Dewasa: Gara-Gara Kepergok Ayah

Download Video 7MB

Download Video 8MB

Download Video 5MB

Download Video 6MB

Download Video 9MB

Download Video 12MB

Cerita Dewasa: Gara-Gara Kepergok Ayah

Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya. Bisa dikatakan ibulah yang mengatur semua dalam keluarga. Diluar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku.

Cerita Ngentot Dengan Anjing

Pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi selama 2 minggu mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Hatiku bersorak. Aku bisa bebas di rumah. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.

Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali berhubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?

Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi.

Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. Kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku.

Aku benar-benar t erangsang. Aku bisa merasakan vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku.

Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.

Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya yang tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut.

Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin berg airah.
“Ah..” kumasukkan saja batang itu ke mulutku.

Anton melepas celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya.

“Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!” katanya dan Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih.

Dibukanya rok abu-abuku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku.

Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan lidahnya di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.
“Ton, ayo masukin saja.”
“Sebentar lagi Nitt.”
“Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!”

Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu..”Bless..” batang itu masuk dengan mantap, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Tiba-tiba,
“Ah.. aku keluar..”
Dengan segera dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.

“Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah,” rungutku dalam hati.
“Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada.” pikirku kemudian.
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.
“Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini aku harus latihan band, udah agak telat nih,” katanya sambil berpakaian dengan buru-buru.
“Kurang ajar anak ini. egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja.”

Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring membelakanginya di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, w ajahku kuarahkan ke sandaran sofa. Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.

“Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali,” pikirku.
Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.
“Nita!”
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.
“Ayah!”
Aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.

“Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu.”
“Jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama Mama,” aku menangis memohon sambil memeluk lutut ayahku,.

Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut.
“Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lela ki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya.” Aku diam aja tak menyahut.

“Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar.”
“Sungguh?”
Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya. Langsung seluruhnya.

Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh lebih besardan lebih panjang dari penis si Anton. Tak tahu berapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.

Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidahnya sudah menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut.

Jilatannya berulang-ulang. Kadang klitorisku yang dijilatinya. Dihi sapinya, bahkan digigit kecil.
“Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat Yah,” desahku tanpa malu lagi di hadapan ayahku.
Ayah “memakan” vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat.
“Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya,” aku tiba-tiba merasa lemas.

Ayah tahu kalau aku sudah orgasme. Dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kusedot dan kuhisap berulang-ulang.

Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku.

Aku ingin segera ayah memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin “menelan” batang yang besar dan panjang. Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.
“Mau main berdiri ini,” pikirku.
Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.
“Masukkan Nit!” ujar Ayah.

Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah..sedikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.
“Aduh pelan-pelan, Ayah.”

Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya.

Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat. Tiba-tiba, aku mau orgasme…
“Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu.”
“Mau apa ini?” pikirku .

Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian.. “Bless..” batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini nikmatnya selangit.

Hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku, yang membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat.
“Auh..oh.. oh..!” desahku saat aku orgasme untuk kedua kalinya.

Hentakan ayah makin cepat, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari vaginaku. Dengan gerakan cepat, disodorkannya batangnya ke mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat.

Tiba-tiba kurasakan semburan sperma di dalam mulutku. Aku tak peduli, terus kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan.< br />”Nit, nanti kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.” katanya sambil memelukku dan menciumku

Aku tak menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?

Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama masih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati.

Tamat

Cerdes (Cerita Dewasa)

Gambar Memek Sempit ABG © 2017Frontier Theme